Dunia di Ujung Titik Balik: Geopolitik Global Menegang Tahun 2025

Tahun 2025 menandai momen krusial dalam peta geopolitik dunia. Dari konflik Rusia-Ukraina hingga manuver strategis China, dinamika global semakin kompleks. Dalam artikel ini, kita kupas isu besar yang sedang mengguncang panggung internasional, risiko yang mengintai, serta peluang perdamaian yang mulai muncul.

1. Eskalasi Konflik Rusia–Ukraina

Konflik antara Rusia dan Ukraina terus memanas di akhir 2025. Serangan udara Rusia makin intensif, menyasar infrastruktur vital seperti jaringan listrik dan sistem kereta api Ukraina.(detiknews)
Menurut catatan, serangan Rusia terhadap fasilitas sipil Ukraina menyebabkan korban dan kerusakan besar.(Wikipedia)

Pertemuan antara Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menunjukkan kedua pihak mulai “berbagi ide baru” soal penyelesaian konflik — meski belum ada kesepakatan konkret untuk perdamaian.(Kompas) Sinyal diplomatik ini menjadi salah satu harapan kecil bahwa jendela perdamaian bisa terbuka.

2. Peran Strategis China dalam Krisis

Sementara itu, China mengambil posisi semakin aktif dalam konflik ini. Beijing menyatakan mendukung upaya perundingan damai antara AS dan Rusia, dan menyebut peluang perdamaian “terbuka” setelah dialog tinggi antara Washington dan Moskow.(ANTARA News)

Pemerintah China menegaskan bahwa langkahnya bersifat objektif dan pragmatis. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Beijing akan terus berkomunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk mendorong resolusi politik atas krisis.(ANTARA News)

Di sisi lain, ada kecaman dari Ukraina terhadap dugaan warga Tiongkok yang terlibat dalam konflik di pihak Rusia. China merespons dengan menyebut tudingan tersebut sebagai “ucapan yang tidak bertanggung jawab.”

3. Aliansi Tumbuh: Blok Global Selatan dan New Order Dunia

Dalam dinamika geopolitik global, aliansi alternatif sedang dibentuk. Rusia dan China memperkuat kerjasama strategis, menegaskan bahwa mereka adalah kekuatan yang menantang tatanan dunia Barat.(The Washington Post)

Negara-negara dari Global South pun semakin vokal. China, khususnya, mendorong inisiatif “Sahabat untuk Perdamaian” yang menekankan pentingnya penyelesaian politik terhadap konflik global.(ANTARA News) Begitu pula, dukungan untuk reformasi lembaga internasional kian diperkuat oleh negara-negara BRICS.(Wikipedia)

4. Ancaman Ekonomi Global

Konflik geopolitik ini bukan hanya soal senjata — dampaknya juga terasa di ekonomi global. Menurut Ketua IMF Kristalina Georgieva, ketegangan antara AS dan China bisa memperburuk ketidakpastian ekonomi dunia, terutama jika terkait dengan pasokan bahan kritis seperti logam tanah jarang.(Reuters)

Selain itu, perang Rusia-Ukraina dipandang sebagai salah satu risiko terbesar bagi ekonomi global.(The Times) Tekanan sanksi terhadap Rusia juga terus memberi dampak, meskipun ada dukungan ekonomi besar dari China.(Wikipedia)

5. Peluang Perdamaian: Titik Terang di Tengah Ketegangan

Meski gejolak tinggi, tidak bisa dipungkiri ada celah diplomasi. China berharap dialog AS-Rusia bisa mengarah ke perundingan damai.(ANTARA News) Selain itu, muncul gagasan pembentukan kontingen internasional (coalition) untuk misi perdamaian yang melibatkan puluhan negara.(Wikipedia)

Jika terwujud, misi internasional ini bisa menjadi penyeimbang kekuatan di medan konflik sekaligus memberi tekanan diplomatik agar kesepakatan damai dicapai.

6. Risiko Fragmentasi Geopolitik

Tahun 2025 juga memperlihatkan potensi fragmentasi sistem global. Aliansi ekonomi dan militer semakin berpola multipolar, bukan hanya dominasi Barat. Geopolitik global tampak semakin “terpecah” ke dalam blok-blok baru dengan kepentingan berbeda.

Dalam kerangka ini, sistem keuangan dan rantai pasokan global juga mulai bertransformasi. Negara-negara mencari alternatif dari mekanisme tradisional seperti SWIFT, dan semakin banyak yang memperkuat sistem pembayaran mereka sendiri.


Kesimpulan

Geopolitik global di 2025 berada di persimpangan: konflik Rusia-Ukraina kian tajam, China semakin berani memainkan perannya sebagai kekuatan penyeimbang, dan sistem internasional mulai bergeser. Meski risiko fragmentasi tinggi, ada harapan diplomasi jika semua pihak bisa menahan diri — dan ini bisa jadi momentum untuk perdamaian.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *